Beranda Belajar Bimbel Quiz Games Untuk Pengajar Sekolah Tentang
Join Masuk Daftar Gratis
Faraku Resources

Artikel untuk belajar, mengajar, dan membangun kebiasaan.

Temukan panduan belajar, inspirasi pengajar, ide classroom, dan checklist sekolah yang membantu Faraku terasa seperti learning destination yang hidup.

Resource HubStudy tips, teaching ideas, school guide
1
Study Tips

Cara belajar lebih konsisten.

2
Teaching Ideas

Ide aktivitas kelas dan quiz.

Artikel Terbaru

Baca insight terbaru Faraku.

Pilih kategori sesuai kebutuhan: belajar mandiri, pengajaran, assessment, games, atau implementasi sekolah.

Tips Belajar
Tips & Trik

Cara Membuat Belajar Terasa Seperti Bermain

Ketika mendengar kata “belajar”, apa yang pertama kali kamu bayangkan? Membaca buku tebal? Mengerjakan banyak soal? Menghafalkan catatan? Belajar memang kadang membutuhkan kegiatan...

Tips Belajar
Tips & Trik - 5 min baca

Cara Membuat Belajar Terasa Seperti Bermain

Ketika mendengar kata “belajar”, apa yang pertama kali kamu bayangkan? Membaca buku tebal? Mengerjakan banyak soal? Meng...

Ketika mendengar kata “belajar”, apa yang pertama kali kamu bayangkan?

Membaca buku tebal?

Mengerjakan banyak soal?

Menghafalkan catatan?

Belajar memang kadang membutuhkan kegiatan tersebut. Tetapi belajar tidak harus selalu terasa membosankan. Banyak hal bisa dipelajari melalui permainan.

Coba perhatikan saat kamu memainkan sebuah game.

Biasanya ada tantangan, poin, level, hadiah, serta tujuan yang harus diselesaikan. Karena ingin mencapai level berikutnya, kita menjadi lebih bersemangat untuk terus mencoba.

Konsep yang sama bisa digunakan untuk belajar.

Misalnya kamu sedang belajar perkalian.

Buatlah tantangan:

“Berapa banyak soal perkalian yang bisa aku jawab dengan benar dalam lima menit?”

Hari ini mungkin kamu mendapatkan 12 jawaban benar. Besok cobalah mencapai 15.

Tanpa sadar, kamu sedang berlatih matematika sambil mencoba mengalahkan skor milikmu sendiri.

Kamu juga bisa menggunakan sistem poin.

Contohnya:

Membaca satu materi = 10 poin.

Menyelesaikan lima soal = 20 poin.

Mendapat nilai kuis di atas 80 = 30 poin.

Belajar selama lima hari berturut-turut = bonus 50 poin.

Setelah mencapai 200 poin, kamu boleh mendapatkan hadiah sederhana seperti memilih film keluarga yang ingin ditonton atau melakukan aktivitas favorit.

Belajar bersama teman juga bisa dibuat seperti permainan.

Cobalah membuat kuis bergantian. Satu orang menjadi pembuat soal, kemudian teman lainnya menjawab. Setelah lima pertanyaan, tukarkan peran.

Kamu bahkan bisa membuat kartu pertanyaan sendiri.

Pada bagian depan kartu tuliskan:

“Apa ibu kota Indonesia?”

Kemudian pada bagian belakang:

“Jakarta.”

Kartu seperti ini disebut flashcard. Selain untuk pelajaran IPS, flashcard juga bisa digunakan untuk kosakata bahasa Inggris, rumus matematika, bagian tubuh manusia, nama planet, dan masih banyak lagi.

Di Faraku, konsep belajar sambil bermain juga bisa ditemukan melalui kuis dan aktivitas interaktif. Kamu bisa mencoba soal, mendapatkan hasil, kemudian mengulang materi yang belum dikuasai.

Tetapi ada satu hal penting.

Tujuan utama bukan hanya mendapatkan poin tertinggi.

Tujuan utamanya adalah memahami sesuatu yang sebelumnya belum kamu ketahui.

Kalau mendapatkan skor kecil, jangan langsung kecewa. Anggap saja seperti sebuah permainan ketika karaktermu belum berhasil melewati suatu level.

Apa yang biasanya kamu lakukan?

Mencoba lagi.

Begitu juga dengan belajar.

Pelajari kembali materi, cari tahu bagian yang salah, kemudian ulangi tantangannya.

Belajar akan terasa jauh lebih menyenangkan ketika kita melihatnya sebagai petualangan.

Setiap bab adalah level baru.

Setiap kuis adalah tantangan.

Setiap kesalahan adalah kesempatan mencoba kembali.

Dan setiap hal baru yang kamu pahami adalah sebuah pencapaian.

Tantangan Faraku: Buat tantangan belajarmu sendiri hari ini. Tentukan satu pelajaran, satu target, dan skor yang ingin kamu capai.

Tips Belajar
Tips & Trik - 5 min baca

Kenapa Kita Tidak Perlu Takut Salah Saat Belajar?

Saat guru memberikan pertanyaan di kelas, pernahkah kamu sebenarnya tahu jawabannya tetapi takut mengangkat tangan? Mung...

Saat guru memberikan pertanyaan di kelas, pernahkah kamu sebenarnya tahu jawabannya tetapi takut mengangkat tangan?

Mungkin kamu berpikir:

“Bagaimana kalau jawabanku salah?”

“Atau nanti teman-teman tertawa?”

Perasaan seperti itu sangat wajar. Tetapi tahukah kamu bahwa melakukan kesalahan sebenarnya merupakan salah satu bagian penting dari proses belajar?

Bayangkan saat pertama kali belajar naik sepeda. Hampir tidak ada orang yang langsung bisa mengendarainya dengan sempurna. Kita mungkin kehilangan keseimbangan, salah mengarahkan setang, atau harus menurunkan kaki berkali-kali.

Tetapi dari kesalahan itulah kita belajar.

Belajar matematika, bahasa, IPA, atau pelajaran lainnya juga sama.

Misalnya kamu menjawab:

7 × 8 = 54.

Kemudian setelah diperiksa, ternyata jawabannya adalah 56.

Kesalahan tersebut memberi tahu kita bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Setelah mengetahui jawaban yang benar, kemungkinan besar kamu akan lebih berhati-hati saat menemukan soal yang sama.

Kesalahan bisa menjadi petunjuk.

Daripada hanya berkata, “Aku salah,” cobalah bertanya:

“Bagian mana yang membuatku salah?”

“Apakah aku salah menghitung?”

“Apakah aku belum memahami rumusnya?”

“Apa yang bisa aku lakukan supaya tidak mengulanginya?”

Pertanyaan seperti ini membuat kesalahan berubah menjadi kesempatan belajar.

Orang-orang hebat pun pernah melakukan banyak kesalahan.

Ilmuwan bisa melakukan percobaan berkali-kali sebelum menemukan hasil yang tepat. Pemain sepak bola bisa gagal mencetak gol. Programmer bisa membuat kode yang error. Penulis bisa menulis cerita yang kemudian harus diperbaiki.

Mereka menjadi lebih baik bukan karena tidak pernah salah, tetapi karena mau belajar dari kesalahan.

Saat menggunakan kuis di Faraku, misalnya, jangan hanya memperhatikan nilai akhirnya.

Kalau kamu mendapat nilai 70, lihat kembali pertanyaan yang jawabannya salah. Pelajari alasan jawaban yang benar. Setelah itu, coba kerjakan kembali beberapa waktu kemudian.

Dengan begitu, nilai 70 tadi justru membantu kamu menemukan bagian yang perlu dipelajari lagi.

Kamu juga bisa memiliki sebuah Buku Kesalahan Pintar.

Tuliskan tiga hal sederhana:

1.      Soal yang salah.

2.      Mengapa kamu menjawab salah.

3.      Cara mendapatkan jawaban yang benar.

Setelah beberapa minggu, kamu bisa melihat kembali buku tersebut. Kamu mungkin akan terkejut karena banyak soal yang sebelumnya sulit ternyata sekarang terasa mudah.

Yang perlu kamu ingat adalah:

Salah menjawab bukan berarti kamu tidak pintar.

Salah menjawab berarti kamu sedang menemukan sesuatu yang belum kamu kuasai.

Jadi lain kali ketika guru bertanya, jangan terlalu takut mencoba.

Angkat tangan.

Berikan jawaban terbaikmu.

Kalau ternyata salah, kamu mendapatkan kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru.

Tantangan Faraku: Ingat satu kesalahan yang pernah kamu lakukan saat belajar minggu ini. Apa hal baru yang kamu pelajari dari kesalahan tersebut?

Tips Belajar
Tips & Trik - 5 min baca

Belajar Sedikit Setiap Hari, Kenapa Hasilnya Bisa Lebih Hebat?

Pernahkah kamu belajar banyak sekali karena besok ada ujian? Buku dibuka, catatan ditumpuk, lalu kamu mencoba menghafalk...

Pernahkah kamu belajar banyak sekali karena besok ada ujian? Buku dibuka, catatan ditumpuk, lalu kamu mencoba menghafalkan semuanya dalam satu malam. Kadang cara ini memang bisa membantu kita mengingat beberapa hal. Tetapi biasanya, beberapa hari kemudian kita mulai lupa lagi.

Ternyata, belajar sedikit demi sedikit setiap hari justru bisa membuat kita lebih mudah memahami dan mengingat pelajaran.

Bayangkan kamu ingin membangun sebuah rumah dari balok mainan. Kalau kamu meletakkan semua balok sekaligus tanpa aturan, rumahnya mungkin mudah roboh. Tetapi kalau kamu menyusunnya satu per satu dengan hati-hati, bangunannya akan menjadi lebih kuat.

Belajar juga seperti itu.

Daripada belajar tiga jam sekaligus dalam satu hari, kamu bisa mencoba belajar sekitar 20–30 menit setiap hari. Misalnya hari Senin membaca materi, hari Selasa mengerjakan latihan, lalu hari Rabu mencoba kuis untuk melihat apakah kamu masih mengingatnya.

Dengan cara ini, otak mendapatkan kesempatan untuk memproses informasi secara bertahap.

Kamu juga tidak harus selalu belajar dengan membaca buku. Ada banyak cara belajar yang bisa membuat kegiatan belajar terasa lebih menyenangkan. Kamu bisa menonton video pembelajaran, membuat mind map, bermain kuis, berdiskusi dengan teman, atau mencoba menjelaskan materi kepada orang lain.

Salah satu cara sederhana untuk mengetahui apakah kamu sudah memahami suatu pelajaran adalah mencoba menjelaskannya dengan bahasamu sendiri.

Misalnya kamu baru belajar tentang fotosintesis.

Cobalah berkata:

“Fotosintesis adalah cara tumbuhan membuat makanannya sendiri dengan bantuan cahaya matahari.”

Kalau kamu bisa menjelaskannya dengan sederhana tanpa terlalu sering melihat buku, berarti kamu mulai memahami materinya.

Kamu juga bisa membuat target belajar kecil.

Contohnya:

“Hari ini aku ingin memahami perkalian pecahan.”

Target seperti ini lebih mudah dilakukan dibandingkan mengatakan:

“Hari ini aku harus menguasai semua matematika!”

Jangan lupa memberikan waktu istirahat kepada otak. Setelah belajar sekitar 25–30 menit, berdirilah sebentar, minum air putih, berjalan beberapa langkah, atau melihat ke luar jendela.

Istirahat bukan berarti malas. Otak juga membutuhkan waktu untuk kembali segar.

Yang paling penting, jangan membandingkan kecepatan belajarmu dengan teman lain. Ada anak yang cepat memahami matematika, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar bahasa. Ada juga yang hebat dalam membaca, menggambar, olahraga, atau ilmu pengetahuan.

Setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda.

Mulailah dengan kebiasaan sederhana: belajar sedikit, tetapi dilakukan secara rutin.

Karena kemampuan hebat tidak selalu muncul dari belajar sangat lama dalam satu hari. Sering kali, kemampuan itu tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.

Tantangan Faraku: Pilih satu pelajaran hari ini, belajar selama 20 menit, kemudian coba jawab lima soal tanpa melihat catatan. Berapa soal yang berhasil kamu jawab?

Parenting
Tips & Trik - 5 min baca

7 Cara Melatih Anak Agar Berpikir Kritis Sejak Dini

Bagaimana cara mengajarkan kepada anak untuk berpikir kritis sejak dini? Yuk, simak pembahasan lengkapnya pada artikel berikut ini!

Pernahkah kita sadari bahwa sejak di bangku sekolah dasar, anak-anak cenderung dididik untuk menjadi penurut, pengikut, dan mungkin selalu disalahkan bila mereka tidak mampu dalam suatu mata pelajaran? Padahal, setiap anak seharusnya bisa diajarkan untuk lebih berpikir kritis sejak di masa-masa sekolahnya.

Tidak ada salahnya kok berpikir kritis. Apa lagi, berpikir kritis rupanya merupakan cara berpikir yang memiliki lebih banyak nilai positifnya, terutama untuk menemukan sebuah titik masalah yang sedang dihadapi anak agar terhindar dari kesalahan tersebut atau membuat anak bisa mengatasi masalahnya sendiri.

Coba bayangkan, apabila anak-anak tidak dididik berpikir kritis sejak dini, kebiasaan tersebut bisa berlanjut hingga ke jenjang pendidikan mereka yang lebih tinggi. Misalnya ketika anak-anak sudah memasuki usia kuliah dan tinggal jauh dengan orang tua, tidak diajarkannya cara berpikir kritis akan membuat ia menjadi mahasiswa yang sulit dalam mencari solusi untuk masalahnya sendiri hanya karena tidak dibiasakan berpikiran kritis.

Menjadi orang yang berpikir kritis itu artinya bisa menjadi “problem solver”, menjadi seseorang yang jeli dalam melihat sisi lain dari sebuah masalah untuk bisa diselesaikan.


 



Parenting
Tips & Trik - 5 min baca

7 Cara untuk Stimulasi Kecerdasan Intrapersonal Anak

Artikel ini membahas tentang kecerdasan intrapersonal (self smart) pada anak dan bagaimana cara orang tua menstimulasinya.

Apakah anak Anda sudah mulai memilih-milih sendiri makanan yang dia mau? Sehingga ia belum tentu mau makan yang Ayah/Bunda sajikan. Atau misal mau jalan-jalan, dia akan lari ke kamarnya dan menentukan sendiri baju yang ia ingin kenakan. Atau nih, anak Anda mulai asyik bermain sendirian.

Mungkin Anda akan terheran-heran atau justru khawatir kenapa ya sekarang anakku tidak menurut denganku? Kenapa ya dia lebih senang bermain sendiri? Selama masih dalam batas wajar, Anda tidak perlu khawatir. Kemungkinan tanpa Anda atau anak Anda sadari bahwa ia sedang dalam masa menstimulasi kecerdasan intrapersonalnya.

Apa itu Kecerdasan Intrapersonal?

Kecerdasan intrapersonal (self smart) adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Anak dengan kecerdasan ini cenderung sudah mengetahai siapa dirinya, apa yang ia bisa lakukan, apa yang ia ingin lakukan, dan apa yang menjadi kekuatan dan kelemahannya. Bahkan ia juga mampu menyelesaikan masalah pada dirinya. Misalnya, menentukan mau makan apa, memakai baju apa, atau mau nonton channel apa.

Cara Menstimulasi Kecerdasan Intrapersonal Anak

Tentunya, ada beragam cara yang bisa Anda lakukan untuk merangsang kecerdasan intrapersonal anak. Di antaranya sebagai berikut:

 
1. Mengajak anak bercerita

Dorong anak untuk bercerita tentang dirinya dan bagaimana perasaannya. Misalnya, tanyakan padanya bagaimana kegiatannya di sekolah. Lain waktu, tanyakan apa keinginan dan cita-citanya kelak. Dorong pula anak untuk menceritakan berbagai hal, termasuk bagaimana ia dengan teman-temannya atau masalah apa yang sedang ia hadapi.

 
2. Pembelajaran mandiri

Sebenarnya, anak dengan kecerdasan intrapersonal yang tinggi melakukan pembelajaran terbaiknya melalui usahanya sendiri. Mary Mayesky, penulis “Creative Activities for Young Children” mengatakan bahwa anak dapat melihat, mendengar, dan belajar hal-hal baru, tapi sebaiknya Anda tidak membantunya langsung dalam upaya eksplorasinya tersebut. Kecuali ia sudah benar-benar kebingungan, baru Anda menjelaskan atau meluruskannya.

cara menstimulasi kecerdasan intrapersonal anak - membiarkan anak belajar mandiri

 

Selain itu, Anda dapat membantu anak melakukan pembelajaran mandiri dengan menyediakan mainan yang dapat meningkatkan imajinasinya atau berikan ia mainan edukasi seperti puzzle.

Anda juga bisa menyediakan komputer untuk membantunya mengeksplorasi berbagai hal. Misalnya saja, bermain game roblox atau coding. Keduanya, membantu anak untuk fokus dan berfikir secara kreatif untuk menyelesaikan tantangan yang diberikan. Namun ingat, jika ia mulai berhubungan dengan internet, dampingi ia dan beritahu apa yang boleh dan tidak boleh ia akses.

Supaya lebih aman, Anda bisa mengajak anak untuk mengikuti kursus coding dan robotik yang Kalananti sediakan dengan menerapkan hybrid project-based learning. Di kursus coding dan robotik ini, anak akan belajar membuat karya digital, serta mempresentasikan project yang mereka buat. Wah, pastinya ini bisa menjadi latihan agar anak bisa tampil percaya diri, ya.

Apabila tertarik dan ingin menggali informasi lebih lanjut mengenai kursus coding dan robotik dari Kalananti ini, Anda bisa klik link ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai program dan trial class-nya.

 
3. Menulis diary (buku harian)

Cara lain yang bisa Anda lakukan adalah mengajak anak bercerita lewat tulisan. Salah satunya melalui buku harian (diary). Dengan begitu, anak dapat menulis serangkaian kejadian yang ia lalui dan mengungkapkan persaannya secara mendalam. Disamping itu, menulis juga dapat membantu anak mengamati keadaan sekitar dari beragam sudut pandang yang berbeda.

drew-perales-menulis buku diary dapat menstimulasi kecerdasan intrapersonal anak


 
4. Membaca buku

Ayah/Bunda pasti tahu kan dengan kata mutiara ‘Buku adalah Jendela Dunia’? Ya, membaca buku dapat membuka dan memperluas wawasan kita karena buku merupakan sumber informasi untuk mengetahui berbagai hal dan peristiwa di segala aspek kehidupan. Dengan membiasakan anak membaca buku, mereka dapat lebih mengeksplor diri dengan ilmu pengetahuan, termasuk menggali minat dan bakat yang dimiliki.

Baca Juga: Kapan Sebaiknya Anak Dikenalkan pada Buku?

 
5. Me time

Berikan anak Anda waktu untuk dirinya sendiri (me time). Proses ini dapat membantu ia mengidentifikasi apa yang sedang ada di pikirannya. Sehingga orang tua jangan panik jika anak mulai lebih sering bermain sendiri.

Biarkan anak menikmati waktu sendirinya dengan mendengarkan musik, menggambar, membaca, atau hal lainnya yang senangi. Sesi me time dapat membantunya berpikir lebih jernih, mengatur emosinya, memikirkan respon apa yang harus ia lakukan saat terkena masalah, atau mencari tau apa yang ia suka dan tidak suka.

cara menstimulasi kecerdasan anak - membiarkan anak me time
 

Ayah/Bunda, meditasi dan yoga juga dapat menstimulasi kecerdasan intrapersonal anak lho. Karena kegiatan tersebut dapat membantu pikiran menjadi lebih tenang dan harmonis.

Baca Juga: 10 Skill Dasar yang Penting Diajarkan Kepada Anak

 
6. Mengajari anak belajar seni

Seni juga dapat membantu menstimulasi kecerdasan intrapersonal anak dengan berbagai cara. Misalnya, Anda bisa meminta anak menggambar sesuatu yang menggambarkan emosinya. Anda juga dapat mengajaknya mendengarkan musik atau bermain musik yang sesuai dengan emosinya dan tanyakan bagaimana musik membantunya mengatasi emosi yang ia rasakan. Atau memintanya menuliskan kata-kata dan membuat potongan lagu yang membuatnya lebih baik.

Selain itu, mainan seperti clay, slime, atau media lainnya juga dapat membantu anak dalam menghasilkan elemen-elemen kreatif yang ia butuhkan untuk mencari tahu kekuatan dan kelemahannya, serta jiwa artistiknya yang tentunya baik untuk menstimulasi kecerdasan intrapersonalnya.


 
7. Mengikuti kegiatan sosial

Meskipun secara definisi, kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan dalam memahami diri sendiri, namun kecerdasan ini tidak hanya berbicara soal aktivitas/kegiatan yang menyangkut diri pribadi. Melainkan, kecerdasan intrapersonal juga berhubungan dengan dunia luar dan perasaan orang lain.

Oleh karena itu, agar kecerdasan intrapersonal sang buah hati dapat seimbang dan bermanfaat, Ayah/Bunda dapat mengajak anak untuk mengikuti kegiatan sosial. Misalnya, mengikuti ekskul, kegiatan karyawisata di sekolah, menemani berbelanja di pasar, dan sebagainya. Dengan begitu interaksi anak dengan lingkungan sekitar dapat terasah dengan baik.

Kemampuan intrapersonal (self smart) setiap anak berbeda-beda, tergantung bagaimana cara anak maupun orang tua dalam menstimulasinya. Begitupun cara untuk menstimulasi intelektual anak, Ayah/Bunda bisa mengembangkan kemampuan intelektual buah hati sejak dini ditemani oleh Kursus Ruangguru for Kids!

Di sana, Anda bisa mengasah kemampuan berpikir kritis dan potensi anak dalam belajar membaca, menulis, dan berhitung (Calistung), Matematika, Bahasa Inggris, dan Sains. Supaya lebih seru lagi, coba juga metode Live Teaching interaktif yang tersedia dalam program nasional dan internasional yang dikhususkan untuk anak usia 4–8 tahun.

Matematika
Tips & Trik - 5 min baca

Tips Mudah Menguasai Matematika

Cara belajar matematika dengan mudah adalah dengan memahami konsep dasar di balik setiap rumus, bukan sekadar menghafalkannya.

Matematika Keren
  • Pahami konsep, bukan hafalan: Kenali dari mana asal-usul sebuah rumus dan bagaimana cara kerjanya agar lebih mudah diaplikasikan pada soal yang berbeda.
  • Buat catatan rumus: Tulis rumus penting pada kertas kecil atau sticky note, lalu tempel di tempat yang sering terlihat agar kamu bisa menghafalnya secara visual.
  • Latihan soal secara rutin: Mulailah dari soal yang paling mudah untuk membangun rasa percaya diri sebelum beralih ke tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
  • Ubah pola pikir: Bangun pikiran positif bahwa matematika bukanlah hal yang menyeramkan, melainkan sebuah permainan logika yang